Gaji Karyawan Underpaid? Penyebab, Tanda, & Sanksi untuk Perusahaan
Dampak buruk underpaid adalah ancaman nyata bagi bisnis Anda. Simak regulasi hukum, sanksi, dan solusi mengatasinya dengan sistem di sini!
Table of Contents
Table of Contents
Pernah merasa beban kerja terus bertambah, tapi gaji terasa jalan di tempat? Kondisi ini sering disebut sebagai underpaid. Dalam dunia kerja, underpaid adalah situasi ketika karyawan menerima gaji yang dianggap tidak sebanding dengan tanggung jawab, skill, pengalaman, maupun standar pasar untuk posisi tersebut.
Masalah underpaid tak hanya tentang nominal gaji yang kecil. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa memengaruhi motivasi kerja, produktivitas, hingga tingkat turnover karyawan di perusahaan.
Oleh karena itu, baik HRD, pemilik usaha, maupun karyawan perlu memahami apa penyebab underpaid, tanda-tandanya, serta cara mengatasinya secara tepat.
Di artikel ini, kamu akan mempelajari pengertian underpaid, penyebab umum di dunia kerja, dampaknya bagi perusahaan dan karyawan, hingga solusi yang bisa diterapkan agar sistem penggajian lebih adil dan transparan.
Apa Itu Underpaid?

Mengetahui definisi dasar mengenai pengupahan merupakan langkah awal yang wajib dipahami oleh manajemen agar tidak salah dalam mengambil kebijakan strategis terkait hak karyawan.
Istilah underpaid adalah sebuah kondisi di mana seorang karyawan menerima upah atau kompensasi finansial yang nilainya berada di bawah kontribusi nyata, tanggung jawab, atau standar pasar yang berlaku untuk posisi tersebut.
Ketika fenomena underpaid adalah kenyataan yang terjadi di dalam organisasi Anda, hal ini menandakan adanya ketidakselarasan antara input tenaga kerja yang diberikan oleh karyawan dengan output finansial yang dikeluarkan oleh perusahaan.
Secara umum, situasi underpaid adalah masalah yang sering kali tidak disadari secara langsung oleh pihak manajemen, namun dampaknya dapat dirasakan secara nyata melalui penurunan performa harian.
Bagi Anda para pelaku usaha dan HRD, memahami esensi bahwa underpaid adalah indikator rapuhnya sistem tata kelola remunerasi merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat, adil, dan produktif.
KantorKu HRIS bantu monitoring gaji dan performa dalam satu dashboard.
Sanksi Underpaid di Perusahaan
Menjalankan roda bisnis yang sehat mengharuskan Anda untuk selalu patuh pada regulasi hukum yang berlaku di Indonesia agar perusahaan terhindar dari masalah legalitas.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang telah diubah melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang, ada aturan ketat mengenai pengupahan.
Jika perusahaan Anda terbukti memberikan upah di bawah standar ketentuan, Anda dapat dijerat oleh berbagai pasal berlapis dan sanksi berat berikut ini:
1. Sanksi Pidana Penjara Kurungan
Pemberian upah di bawah standar minimum yang ditetapkan pemerintah daerah (UMK/UMP) dikategorikan sebagai tindak pidana kejahatan oleh hukum ketenagakerjaan Indonesia.
- Pengusaha yang membayar upah lebih rendah dari upah minimum dikenai sanksi pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun.
- Aturan ini mengikat secara mutlak bagi perusahaan skala menengah dan besar tanpa adanya pengecualian penangguhan upah.
2. Sanksi Denda Finansial Skala Besar
Selain hukuman fisik berupa kurungan penjara, hukum hukum positif di Indonesia juga menetapkan hukuman material berupa denda finansial yang sangat menguras kas operasional perusahaan Anda.
- Perusahaan dapat dijatuhi hukuman denda paling sedikit Rp100.000.000 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp400.000.000 (empat ratus juta rupiah).
- Sanksi denda ini wajib dibayarkan kepada negara dan tidak menghapuskan kewajiban perusahaan untuk tetap membayar sisa kekurangan upah karyawan.
3. Sanksi Administratif Berjenjang
Bagi pelanggaran pengupahan yang berkaitan dengan struktur skala upah, lembur, atau pemotongan sepihak, pemerintah dapat menjatuhkan hukuman non-pidana secara bertahap.
- Kementerian Ketenagakerjaan atau Dinas Tenaga Kerja setempat berhak mengeluarkan surat teguran tertulis dan pembatasan kegiatan usaha Anda.
- Pada tingkat pelanggaran yang fatal, pemerintah dapat melakukan pembekuan kegiatan usaha hingga pencabutan izin usaha secara permanen.
4. Kewajiban Membayar Ganti Rugi dan Bunga Upah
Hukum juga melindungi hak finansial karyawan secara perdata dengan memaksa pihak manajemen membayarkan denda keterlambatan atau kekurangan bayar.
- Perusahaan wajib membayar upah beserta dengan bunga atau denda persentase tertentu jika terlambat atau kurang dalam memberikan hak karyawan.
- Hal ini diatur untuk memastikan tidak ada pembiaran atas hilangnya hak-hak finansial pekerja yang mengabdi di tempat usaha Anda.
5. Risiko Gugatan Perselisihan Hak di Pengadilan PHI
Jika terjadi ketidaksepakatan masalah upah, karyawan atau serikat pekerja berhak membawa kasus ketidakadilan remunerasi ini ke ranah hukum formal.
- Perusahaan Anda harus menghadapi proses persidangan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) yang menyita banyak waktu dan biaya legal.
- Putusan pengadilan yang inkrah dapat memaksa eksekusi aset perusahaan untuk melunasi hak-hak karyawan yang diabaikan.
Penyebab Karyawan Menjadi Underpaid
Munculnya masalah upah rendah di dalam sebuah organisasi jarang terjadi karena unsur kesengajaan semata, melainkan lebih sering disebabkan oleh lemahnya sistem administrasi internal perusahaan Anda.
Berikut adalah beberapa faktor utama yang menjadi penyebab utama mengapa karyawan di perusahaan Anda bisa mengalami kondisi underpaid:
1. Tidak Ada Evaluasi Gaji Berkala
Tanpa adanya peninjauan rutin, nilai kompensasi karyawan akan tertinggal oleh laju inflasi dan perkembangan nilai pasar industri.
- Gaji stagnan selama bertahun-tahun meskipun beban hidup terus meningkat secara signifikan.
- Perusahaan kehilangan tolok ukur standar upah yang kompetitif di industri sejenis.
2. Struktur Salary Perusahaan Tidak Jelas
Ketiadaan struktur dan skala upah yang baku membuat penentuan gaji awal maupun kenaikan pendapatan menjadi sangat subjektif.
- Penetapan nominal gaji hanya didasarkan pada proses negosiasi awal tanpa indikator yang terukur.
- Terjadinya ketimpangan pendapatan yang mencolok antara karyawan dengan beban kerja yang setara.
3. Penilaian Kinerja Kurang Objektif
Ketika performa kerja tidak dinilai berdasarkan matriks data yang valid, kontribusi nyata karyawan berpotensi besar untuk diabaikan.
- Karyawan yang berprestasi tinggi tidak mendapatkan apresiasi finansial yang layak dan proporsional.
- Proses promosi atau pemberian bonus tahunan hanya didasarkan pada kedekatan personal semata.
4. Perusahaan Tidak Memiliki Data HR yang Rapi
Dokumentasi administrasi yang berantakan mempersulit tim HRD untuk memantau rekam jejak, masa kerja, dan perkembangan kontribusi karyawan.
- Data lembur, absensi, dan pencapaian target tahunan sering kali tercecer atau hilang.
- Manajemen kesulitan melakukan analisis kompensasi karena tidak adanya basis data yang tunggal dan akurat.
5. Kenaikan Jabatan Tidak Diikuti Penyesuaian Gaji
Memberikan tanggung jawab baru yang lebih besar tanpa adanya revisi paket kompensasi adalah pemicu utama ketidakpuasan kerja.
- Karyawan menerima promosi posisi atau tambahan tugas kerja yang masif namun pendapatan tetap sama.
- Terjadinya ketidakseimbangan yang ekstrem antara tuntutan akuntabilitas baru dengan hak finansial.
Kelola KPI dan payroll lebih praktis dengan sistem KantorKu HRIS.
Tanda-tanda Karyawan Merasa Underpaid
Sebagai HRD atau pemilik usaha yang peka, Anda harus mampu membaca sinyal-sinyal non-verbal dan perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh tim di lingkungan kerja harian.
Mengenali tanda-tanda berikut secara dini dapat membantu Anda melakukan tindakan korektif sebelum masalah internal menjadi semakin berlarut-larut:
1. Gaji Tidak Sebanding dengan Beban Kerja
Karyawan mulai menyadari adanya ketidakadilan ketika kuantitas harian pekerjaan mereka terus bertambah tanpa ada kompensasi ekstra.
- Sering melakukan kerja lembur tanpa kompensasi upah lembur yang diatur secara transparan.
- Tuntutan target dari manajemen yang terus meningkat drastis setiap bulan tanpa apresiasi tambahan.
2. Gaji Lebih Rendah dari Standar Industri
Akses informasi yang terbuka membuat karyawan dengan mudah membandingkan kompensasi mereka dengan rekan sejawat di perusahaan lain.
- Adanya kesenjangan nominal upah yang besar untuk posisi dan tanggung jawab yang sama di pasar kerja.
- Karyawan secara aktif mulai mencari informasi lowongan kerja luar yang menawarkan standar pendapatan lebih rasional.
3. Skill dan Pengalaman Tidak Dihargai
Karyawan yang telah meningkatkan kapasitas diri atau memiliki keahlian spesifik merasa kontribusi profesional mereka dipandang sebelah mata.
- Sertifikasi keahlian baru atau gelar akademik tambahan yang diraih tidak berdampak pada penyesuaian upah.
- Pengalaman kerja bertahun-tahun dihargai sama dengan karyawan baru yang belum memiliki jam terbang.
4. Tingginya Keluhan dan Turnover
Suasana kerja yang dipenuhi ketidakpuasan finansial akan tercermin langsung dari dinamika retensi tim di dalam perusahaan Anda.
- Meningkatnya frekuensi konflik interpersonal dan keluhan terkait pembagian tugas kerja harian.
- Jumlah karyawan yang mengajukan surat pengunduran diri meningkat secara signifikan dalam waktu berdekatan.
Dampak Underpaid
Dampak negatif dari ketidakadilan kompensasi memiliki efek domino yang merusak dua sisi sekaligus, baik bagi stabilitas organisasi maupun kesejahteraan psikologis pekerja.
Berikut adalah uraian lengkap mengenai dampak buruk yang akan terjadi apabila masalah ini dibiarkan tanpa penanganan:
Dampak Underpaid bagi Perusahaan
1. Produktivitas Karyawan Menurun
Karyawan secara sadar mengurangi intensitas usaha dan kualitas output kerja harian mereka sebagai bentuk protes pasif kepada manajemen.
- Hal ini diperkuat oleh dengan persepsi upah yang tidak adil berhubungan langsung dengan penurunan motivasi intrinsik dan kinerja nyata staf di tempat kerja.
- Hasil kerja yang dikirimkan sering kali tidak mencapai standar kualitas yang diharapkan perusahaan.
2. Muncul Quiet Quitting dan Burnout
Karyawan memilih untuk hanya mengerjakan standar minimum pekerjaan tanpa inisiatif ekstra akibat kelelahan mental yang kronis.
- Berkurangnya partisipasi aktif karyawan dalam proyek-proyek penting perusahaan.
- Suasana kerja menjadi tidak sehat karena dipenuhi oleh tim yang stres dan kehilangan antusiasme.
Baca Juga: Apa Itu Quiet Quitting & 10 Cara Mengatasinya di Perusahaan
3. Tingkat Resign Lebih Tinggi
Perusahaan Anda akan terus-menerus kehilangan waktu dan biaya besar hanya untuk melakukan proses rekrutmen ulang.
- Anggaran operasional terkuras untuk membiayai iklan lowongan kerja dan pelatihan karyawan baru.
- Terganggunya ritme kerja divisi tertentu karena seringnya terjadi pergantian personil.
Baca Juga: 7 Hak Karyawan Resign di Indonesia, Cek Aturannya Sesuai UU!
4. Employer Branding Memburuk
Employer branding adalah citra perusahaan Anda di pasar tenaga kerja akan hancur akibat ulasan negatif yang tersebar secara luas.
- Mantan karyawan membagikan pengalaman buruk mereka mengenai sistem pengupahan di platform digital atau media sosial.
- Perusahaan kesulitan menarik minat kandidat berpotensi tinggi saat membuka lowongan kerja baru.
Baca Juga: 10 Cara Membangun Employer Branding, Dijamin Karyawan Betah!
5. Sulit Retain Talent Berkualitas
Karyawan terbaik dengan performa tinggi (top performer) akan menjadi pihak pertama yang meninggalkan perusahaan Anda.
- Kehilangan aset SDM terbaik yang selama ini menjadi penggerak utama inovasi bisnis Anda.
- Kekosongan posisi kunci yang sulit digantikan dalam waktu singkat oleh tenaga kerja yang ada.
Dampak Underpaid bagi Karyawan
1. Motivasi dan Semangat Kerja Menurun
Motivasi dan semangat kerja yang menurun merupakan dorongan internal untuk memberikan performa terbaik, namun hilang begitu saja karena karyawan merasa usaha keras tidak akan mengubah kondisi finansial mereka.
- Karyawan datang bekerja hanya formalitas memenuhi absensi tanpa rasa memiliki (sense of belonging).
- Hilangnya kreativitas dalam menyelesaikan masalah operasional sehari-hari.
2. Muncul Perasaan Tidak Dihargai
Karyawan merasa eksistensi profesional dan dedikasi waktu yang mereka berikan selama ini tidak dianggap penting oleh manajemen.
- Timbulnya rasa rendah diri dan ketidakpuasan mendalam terhadap pencapaian karier pribadi mereka.
- Hubungan profesional antara karyawan dengan atasan atau HRD menjadi semakin renggang.
3. Risiko Burnout Lebih Tinggi
Tekanan finansial rumah tangga yang berpadu dengan beban kerja yang berat meningkatkan stres psikologis secara signifikan.
- Kesehatan fisik dan mental karyawan terganggu akibat kelelahan emosional yang berkepanjangan.
- Sering absen kerja karena masalah kesehatan yang dipicu oleh tingkat stres yang tinggi.
4. Produktivitas Kerja Menurun
Fokus harian terpecah karena pikiran disibukkan oleh masalah kekurangan finansial untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga.
- Banyaknya kesalahan fatal (human error) yang dilakukan karyawan saat menjalankan tugas harian mereka.
- Kegagalan memenuhi tenggat waktu (deadline) tugas yang sudah ditentukan.
5. Muncul Quiet Quitting
Pembatasan kontribusi kerja secara ketat sebagai mekanisme pertahanan diri agar energi yang dikeluarkan sesuai dengan upah yang diterima.
- Menolak secara tegas apabila diminta bantuan di luar deskripsi pekerjaan utamanya.
- Langsung pulang tepat waktu tanpa memperdulikan pekerjaan yang belum selesai sepenuhnya.
6. Keinginan Resign Semakin Tinggi
Motivasi utama bekerja bergeser sepenuhnya pada pencarian konstan akan peluang kerja baru di luar sana yang mampu memberikan keadilan.
- Karyawan memanfaatkan waktu luang di kantor hanya untuk memperbarui resume dan melamar pekerjaan lain.
- Loyalitas terhadap masa depan perusahaan Anda sudah tidak ada lagi di dalam benak mereka.
Baca Juga: 50 Contoh Exit Interview yang Bisa Anda Tanyakan ke Karyawan
Cara Mengatasi Masalah Underpaid di Perusahaan
Untuk memutus mata rantai masalah kompensasi ini, manajemen Anda harus mengambil langkah strategis yang konkret dan berbasis sistem jangka panjang.
Berikut adalah langkah-langkah solutif yang dapat Anda terapkan segera untuk mentransformasi tata kelola upah di dalam perusahaan:
1. Membuat Struktur Gaji yang Transparan
Menyusun tingkatan upah yang baku berdasarkan bobot jabatan, tanggung jawab, dan kompetensi yang dibutuhkan untuk setiap lini posisi.
- Menghilangkan kecurigaan antar karyawan dengan kejelasan rentang gaji minimum dan maksimum yang baku.
- Memudahkan HRD dalam menentukan penawaran kompensasi yang adil bagi calon karyawan baru.
2. Menyusun KPI dan Penilaian Kinerja yang Jelas
Menerapkan Key Performance Indicators (KPI) yang objektif, spesifik, dan terukur sebagai dasar utama pemberian penghargaan finansial.
- Menghilangkan unsur subjektivitas atau penilaian berbasis kedekatan personal semata (like and dislike).
- Karyawan memahami dengan pasti standar pencapaian yang harus dipenuhi untuk mendapatkan insentif atau bonus.
3. Melakukan Salary Review Berkala
Melakukan evaluasi berkala terhadap seluruh paket kompensasi dengan mempertimbangkan dinamika ekonomi dan survei pasar industri terkini.
- Menjaga agar standar upah internal perusahaan Anda tetap kompetitif dibandingkan dengan perusahaan kompetitor.
- Penyesuaian pendapatan harian didasarkan pada data pertumbuhan bisnis dan tingkat inflasi tahunan.
4. Memberikan Jalur Karier yang Terukur
Menyusun peta perkembangan karier (career path) yang jelas bagi setiap posisi agar karyawan melihat masa depan yang cerah di perusahaan Anda.
- Setiap kenaikan level jabatan wajib diintegrasikan langsung dengan penyesuaian komponen remunerasi yang sepadan.
- Karyawan merasa termotivasi untuk bertahan lama karena adanya kepastian pertumbuhan profesional jangka panjang.
5. Menggunakan HRIS untuk Monitoring Data HR dan Payroll
Mengadopsi teknologi digital untuk mengotomatisasi seluruh proses pencatatan administrasi, absensi, hingga perhitungan gaji secara akurat.
- Meminimalisir kesalahan perhitungan (human error) yang berpotensi merugikan hak finansial karyawan Anda.
- Integrasi data secara real-time memastikan transparansi penuh atas seluruh komponen upah yang dibayarkan.
Baca Juga: 25+ Rekomendasi Aplikasi HRIS Terbaik di Indonesia
Kenapa HRIS Membantu Mengurangi Risiko Underpaid?
Penggunaan sistem Human Resource Information System (HRIS) modern bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan kebutuhan mendesak bagi efisiensi bisnis Anda.
Dalam hal ini, implementasi sistem HRIS terbukti meningkatkan akurasi operasional HR hingga secara drastis di perusahaan, serta mampu mengurangi risiko ketimpangan upah internal melalui standarisasi data yang terpusat.
Lebih dari itu, otomatisasi administrasi payroll melalui platform digital mampu mengeliminasi bias personal dalam penilaian kompensasi serta memastikan kepatuhan perusahaan terhadap hukum upah minimum secara konsisten.
Sistem digital ini menjadi jembatan yang kokoh untuk menciptakan keadilan dan efisiensi melalui rincian fitur unggulan berikut:
1. Data Payroll Lebih Transparan
Seluruh komponen pembentuk pendapatan karyawan dihitung secara otomatis oleh sistem tanpa intervensi manual yang bias.
- Karyawan mendapatkan slip gaji digital yang merinci seluruh potongan dan tambahan secara gamblang.
- Meningkatkan kepercayaan (trust) tim terhadap kredibilitas dan profesionalisme manajemen perusahaan Anda.
Baca Juga: 15 Manfaat Software Payroll bagi Bisnis, Hitung Gaji & Kirim Massal
2. Riwayat Kenaikan Gaji Tersimpan Rapi
Sistem menyimpan seluruh jejak rekam kompensasi individual dari awal bergabung hingga posisi terkini secara aman di sistem cloud.
- Memudahkan tim HRD melakukan audit internal untuk melihat siapa saja karyawan yang gajinya belum ditinjau dalam periode tertentu.
- Mencegah terjadinya kelalaian administrasi akibat pergantian staf HR internal (turnover divisi HR).
3. Monitoring KPI dan Performance Lebih Mudah
Integrasi antara performa kerja harian dengan sistem penggajian berjalan secara selaras dan otomatis tanpa jeda waktu.
- Pencapaian target KPI harian atau bulanan langsung terkonversi menjadi nilai insentif atau bonus yang akurat.
- Keputusan promosi posisi didasarkan pada grafik data objektif yang terekam sepanjang tahun.
4. Membantu HR Mengambil Keputusan Berbasis Data
Manajemen memiliki akses penuh terhadap laporan analitik biaya kompensasi untuk menyusun anggaran masa depan yang lebih seimbang.
- Mempermudah komparasi internal antara anggaran operasional dengan tingkat produktivitas nyata per divisi.
- Menyediakan data valid bagi direksi untuk melakukan perencanaan restrukturisasi upah secara rasional.
Pantau Payroll dan KPI Lebih Mudah lewat KantorKu HRIS!
Mengelola administrasi karyawan secara manual tentu sangat menyita waktu, tenaga, dan rentan terhadap kesalahan fatal yang bisa memicu masalah ketidakpuasan gaji.
Jika saat ini Anda terbesit untuk beralih ke sistem baru demi efisiensi bisnis, mengadopsi aplikasi HRIS modern adalah langkah strategis terbaik untuk meninggalkan metode konvensional yang melelahkan.
Melalui platform digital yang komprehensif, Anda dapat mengelola absensi online, database karyawan, evaluasi KPI, hingga proses perhitungan lembur secara otomatis dan terintegrasi dalam satu dasbor tunggal.
Gunakan layanan software payroll atau software payroll Indonesia yang andal untuk memastikan seluruh hak finansial tim Anda terdistribusi dengan tepat waktu tanpa ada yang terlewat.
Sistem ini juga dilengkapi dengan aplikasi gaji karyawan yang presisi untuk menghitung tunjangan serta aplikasi pembayaran gaji karyawan yang aman guna menyederhanakan proses transfer bulanan bisnis Anda.
Jadi, tunggu apa lagi? Jika Anda membutuhkan solusi digital terbaik untuk meningkatkan produktivitas usaha sekaligus mempermudah pekerjaan tim HR, beralih ke KantorKu HRIS adalah jawaban paling tepat untuk pertumbuhan bisnis Anda!
KantorKu HRIS mudahkan tracking payroll dan performa secara real-time.
Related Articles
Gaji UI UX Designer 2026 di Indonesia, Besar Startup atau Agency?
Gaji Copywriter 2026 di Indonesia di Startup & Agency