Mass Resignation: Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegahnya
Mass resignation dapat mengganggu operasional perusahaan dan meningkatkan biaya SDM. Pelajari pengertian, penyebab, dampak, serta cara mencegahnya.
Table of Contents
- Apa Itu Mass Resignation?
- Tanda-Tanda Perusahaan Sedang Mengalami Mass Resignation
- Penyebab Mass Resignation
- Dampak Mass Resignation bagi Perusahaan
- 10 Cara Mencegah Mass Resignation di Perusahaan
- Peran HR dalam Menghadapi Mass Resignation
- FAQ Terkait Mass Resignation
- Cegah Mass Resignation Lebih Awal dengan Data Karyawan yang Terpusat di KantorKu HRIS!
Table of Contents
- Apa Itu Mass Resignation?
- Tanda-Tanda Perusahaan Sedang Mengalami Mass Resignation
- Penyebab Mass Resignation
- Dampak Mass Resignation bagi Perusahaan
- 10 Cara Mencegah Mass Resignation di Perusahaan
- Peran HR dalam Menghadapi Mass Resignation
- FAQ Terkait Mass Resignation
- Cegah Mass Resignation Lebih Awal dengan Data Karyawan yang Terpusat di KantorKu HRIS!
Mass resignation menjadi salah satu tantangan yang semakin sering dihadapi perusahaan di berbagai industri.
Ketika banyak karyawan mengundurkan diri dalam waktu yang berdekatan, operasional bisnis dapat terganggu dan biaya pengelolaan SDM pun meningkat.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tim HR, tetapi juga produktivitas perusahaan secara keseluruhan.
Oleh karena itu, penting bagi pemilik bisnis dan HR untuk memahami penyebab, tanda-tanda, serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan sejak dini.
Menurut penelitian dari MIT Sloan Management Review, budaya kerja yang buruk menjadi salah satu faktor utama yang mendorong karyawan meninggalkan perusahaan secara massal.
Nah, agar perusahaan dapat mengantisipasi risiko tersebut, mari pahami lebih dalam mengenai mass resignation, mulai dari pengertian, penyebab, dampak, hingga cara mencegahnya!
Apa Itu Mass Resignation?

Mass resignation adalah kondisi ketika banyak karyawan mengundurkan diri dalam periode waktu yang relatif bersamaan. Situasi ini dapat terjadi dalam satu divisi, beberapa departemen, atau bahkan di seluruh perusahaan.
Fenomena ini berbeda dengan turnover karyawan biasa yang terjadi secara bertahap. Pada mass resignation, jumlah karyawan yang keluar meningkat secara signifikan dalam waktu singkat sehingga berpotensi mengganggu operasional perusahaan.
Istilah ini semakin dikenal luas setelah fenomena Great Resignation yang mengguncang dunia kerja global pada 2021–2022.
Menurut data dari U.S. Bureau of Labor Statistics, lebih dari 47 juta pekerja di Amerika Serikat mengundurkan diri secara sukarela hanya dalam satu tahun.
Di Indonesia, pola serupa muncul dalam bentuk yang lebih lokal: gelombang resign massal setelah pembagian THR dan Lebaran, yang terjadi hampir setiap tahun di berbagai industri.
Baca Juga: Cara Menghitung Turnover Karyawan, Ini Rumus & Contoh Analisisnya
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Tanda-Tanda Perusahaan Sedang Mengalami Mass Resignation
Mass resignation biasanya tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum banyak karyawan mengundurkan diri, perusahaan umumnya akan melihat berbagai sinyal yang muncul secara bertahap.
Berikut beberapa tanda yang perlu diperhatikan.
1. Tingkat Pengunduran Diri Meningkat dalam Waktu Singkat
Salah satu tanda paling jelas adalah meningkatnya jumlah karyawan yang mengajukan resign dalam periode tertentu.
Jika biasanya perusahaan hanya menerima satu atau dua pengunduran diri setiap bulan, lalu jumlahnya meningkat drastis, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius.
Beberapa indikator yang dapat dipantau:
- Jumlah surat resign meningkat.
- Turnover rate naik secara signifikan.
- Banyak posisi kosong dalam waktu singkat.
- Proses rekrutmen menjadi lebih sering dilakukan.
2. Banyak Karyawan dari Divisi yang Sama Keluar Bersamaan
Ketika beberapa karyawan dari tim atau departemen yang sama memutuskan resign, hal ini dapat menjadi indikasi adanya masalah internal.
Misalnya:
- Konflik dengan atasan.
- Beban kerja yang terlalu tinggi.
- Ketidakjelasan target kerja.
- Kurangnya dukungan dari manajemen.
Jika tidak segera ditangani, fenomena ini dapat menyebar ke divisi lain.
3. Penurunan Employee Engagement
Employee engagement yang menurun sering kali menjadi sinyal awal sebelum karyawan memutuskan keluar dari perusahaan.
Menurut Gallup, karyawan yang tidak engaged memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencari pekerjaan baru dibandingkan karyawan yang terlibat aktif dalam pekerjaannya.
Beberapa tanda engagement menurun meliputi:
- Semangat kerja berkurang.
- Partisipasi dalam kegiatan perusahaan menurun.
- Produktivitas mulai menurun.
- Komunikasi antar tim menjadi kurang aktif.
Karena itu, perusahaan perlu memantau data SDM secara berkala agar perubahan perilaku karyawan dapat terdeteksi lebih cepat.
4. Meningkatnya Keluhan Karyawan
Keluhan yang terus berulang sering kali menjadi pertanda bahwa ada masalah yang belum terselesaikan.
Keluhan tersebut dapat berkaitan dengan:
- Gaji dan benefit.
- Beban kerja.
- Sistem kerja.
- Hubungan dengan atasan.
- Lingkungan kerja.
Jika perusahaan mengabaikan masukan karyawan dalam jangka panjang, risiko resign massal dapat meningkat.
5. Kesulitan Memenuhi Target Operasional
Ketika banyak karyawan mulai kehilangan motivasi atau meninggalkan perusahaan, pencapaian target bisnis biasanya ikut terdampak.
Beberapa gejala yang sering muncul:
- Proyek terlambat selesai.
- Produktivitas tim menurun.
- Kualitas pekerjaan menurun.
- Pelayanan pelanggan terganggu.
Kondisi ini dapat menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu segera melakukan evaluasi terhadap pengelolaan SDM.
Penyebab Mass Resignation

Mass resignation dapat dipicu oleh berbagai faktor. Dalam banyak kasus, penyebabnya tidak hanya berasal dari satu masalah, melainkan kombinasi beberapa faktor yang terjadi dalam waktu bersamaan.
Berikut adalah penyebab-penyebab utama yang paling umum terjadi:
1. Gaji dan Benefit Tidak Kompetitif
Kompensasi yang tidak sesuai dengan standar pasar sering menjadi alasan utama karyawan mencari peluang baru.
Menurut survei Grant Thornton LLP terhadap 5.000 profesional di Amerika Serikat, 37% karyawan menyebut kenaikan gaji yang tidak memenuhi ekspektasi sebagai alasan utama mereka mempertimbangkan untuk keluar dari perusahaan.
Namun, yang perlu dipahami adalah ini bukan hanya soal nominal gaji. Karyawan juga mempertimbangkan:
- Gaji pokok
- Tunjangan
- Bonus
- Fasilitas kesehatan
- Program kesejahteraan lainnya
2. Kurangnya Kesempatan Pengembangan Karier
Banyak karyawan tidak hanya mencari gaji yang tinggi, tetapi juga peluang untuk berkembang. Beberapa contoh yang sering dikeluhkan:
- Promosi yang tidak jelas
- Kurangnya pelatihan
- Tidak ada program pengembangan kompetensi
- Jalur karier yang tidak transparan
3. Work-Life Balance yang Buruk
Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi faktor yang semakin penting bagi tenaga kerja modern.
Work-life balance yang buruk dapat ditandai dengan:
- Jam kerja berlebihan
- Lembur yang terlalu sering
- Sulit mengambil cuti
- Tekanan kerja yang tinggi
Baca Juga: Work Life Balance: Arti, Manfaat, dan Cara Mewujudkannya!
4. Kepemimpinan dan Manajemen yang Kurang Efektif
Atasan memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman kerja karyawan.
Menurut penelitian dari Society for Human Resource Management (SHRM), kualitas manajemen menjadi salah satu faktor yang memengaruhi retensi karyawan.
Beberapa masalah yang sering terjadi:
- Kurangnya komunikasi
- Minimnya dukungan kepada tim
- Pengambilan keputusan yang tidak konsisten
- Kurangnya transparansi
5. Budaya Kerja yang Tidak Sehat
Budaya kerja yang negatif dapat membuat karyawan merasa tidak nyaman dalam jangka panjang.
Sebuah studi yang dipublikasikan di MIT Sloan Management Review menyimpulkan bahwa budaya kerja yang toxic adalah prediktor resign terkuat. Bahkan 10 kali lebih berpengaruh dibandingkan kompensasi dalam konteks Great Resignation.
Contohnya:
- Konflik antar karyawan
- Lingkungan kerja yang toksik
- Kurangnya penghargaan
- Diskriminasi atau perlakuan tidak adil
6. Kurangnya Apresiasi terhadap Karyawan
Karyawan yang merasa kontribusinya tidak dihargai cenderung memiliki loyalitas yang lebih rendah.
Bentuk apresiasi dapat berupa:
- Pengakuan atas pencapaian
- Bonus kinerja
- Program penghargaan
- Umpan balik positif dari atasan
7. Tingkat Stres dan Burnout yang Tinggi
Burnout dapat menyebabkan kelelahan fisik maupun mental yang berdampak pada keputusan untuk resign.
Menurut World Health Organization (WHO), burnout merupakan sindrom yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik.
Gejala yang sering muncul:
- Kehilangan motivasi
- Sulit berkonsentrasi
- Kelelahan berkepanjangan
- Penurunan performa kerja
8. Adanya Tawaran yang Lebih Menarik dari Perusahaan Lain
Di era digital ini, karyawan sangat mudah ditemukan dan dihubungi oleh perekrut dari perusahaan lain, baik melalui LinkedIn, email, atau referral dari jaringan profesional. Hal ini membuat persaingan memperebutkan talenta semakin ketat.
Banyak perusahaan menawarkan:
- Gaji lebih tinggi
- Flexible working
- Hybrid working
- Benefit tambahan
- Peluang karier yang lebih baik
Untuk lebih ringkasnya, berikut faktor internal dan eksternal yang dapat memicu mass resignation:
| Faktor Internal | Faktor Eksternal |
| Kompensasi tidak kompetitif | Tawaran gaji lebih tinggi dari pesaing |
| Tidak ada jalur karier yang jelas | Meningkatnya permintaan pasar untuk skill tertentu |
| Kepemimpinan yang buruk | Kondisi ekonomi yang mendorong inflasi gaji |
| Budaya kerja yang toxic | Meningkatnya platform rekrutmen digital |
| Burnout akibat beban kerja berlebih | Perubahan ekspektasi karyawan pasca-pandemi |
| Minimnya apresiasi dan pengakuan | Kemudahan berpindah kerja lintas kota/negara |
| Work-life balance yang tidak terjaga | Tren kerja remote/hybrid yang makin luas |
Baca Juga: 10 Tanda-tanda Perusahaan akan Layoff: Hiring Freeze hingga C-Level yang Resign
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Dampak Mass Resignation bagi Perusahaan
Mass resignation dapat menimbulkan berbagai konsekuensi yang memengaruhi operasional dan pertumbuhan bisnis.
Berikut adalah rincian dampak pengunduran diri massal terhadap keberlangsungan perusahaan:
- Meningkatnya biaya rekrutmen dan onboarding: Perusahaan perlu mengeluarkan biaya lebih besar untuk mencari, menyeleksi, dan melatih karyawan baru dalam waktu yang relatif singkat.
- Produktivitas tim menurun: Berkurangnya jumlah tenaga kerja dapat membuat pekerjaan tertunda dan menghambat penyelesaian target operasional.
- Kehilangan talenta dan knowledge penting: Karyawan yang resign sering kali membawa pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan yang berharga bagi perusahaan.
- Beban kerja karyawan yang tersisa meningkat: Tugas dari posisi yang kosong biasanya akan dialihkan sementara kepada anggota tim lain hingga pengganti ditemukan.
- Menurunnya employee morale: Resign massal dapat menimbulkan ketidakpastian dan menurunkan semangat kerja karyawan yang masih bertahan.
- Risiko penurunan kualitas layanan kepada pelanggan: Kekurangan SDM dapat memengaruhi kecepatan respons, kualitas pekerjaan, dan pengalaman pelanggan secara keseluruhan.
- Terganggunya pencapaian target bisnis: Berbagai proyek, target operasional, maupun rencana pertumbuhan perusahaan berpotensi mengalami keterlambatan akibat berkurangnya sumber daya manusia.
Baca Juga: 7 Hak Karyawan Resign di Indonesia, Cek Aturannya Sesuai UU!
10 Cara Mencegah Mass Resignation di Perusahaan

Mass resignation dapat dicegah jika perusahaan mampu mengidentifikasi masalah sejak dini dan mengambil langkah yang tepat.
Nah, berikut adalah 10 cara yang bisa Anda terapkan:
1. Evaluasi Kompensasi dan Benefit Secara Berkala
Gaji dan benefit yang kompetitif dapat membantu perusahaan mempertahankan karyawan terbaik. Karena itu, lakukan evaluasi kompensasi secara rutin agar tetap sesuai dengan kondisi pasar kerja.
Langkah yang bisa dilakukan:
- Bandingkan gaji dengan rata-rata industri berdasarkan posisi dan pengalaman.
- Tinjau kembali benefit seperti asuransi, cuti, fleksibilitas kerja, atau subsidi pengembangan diri.
- Pastikan sistem kenaikan gaji transparan dan dikomunikasikan dengan jelas kepada karyawan.
2. Bangun Jalur Karier yang Jelas
Karyawan akan lebih bertahan jika mereka melihat peluang berkembang di dalam perusahaan. Oleh karena itu, penting untuk menyediakan jalur karier yang jelas dan terstruktur.
Cara memulainya:
- Buat career path yang menunjukkan peluang promosi untuk setiap posisi.
- Adakan diskusi pengembangan karier antara manajer dan karyawan secara berkala.
- Sediakan pelatihan dan program upskilling yang relevan dengan kebutuhan bisnis.
3. Tingkatkan Kualitas Leadership
Banyak karyawan memilih resign bukan karena pekerjaannya, tetapi karena hubungan dengan atasan. Itulah mengapa kualitas kepemimpinan perlu menjadi perhatian perusahaan.
Program yang bisa diterapkan:
- Menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan secara rutin.
- Melakukan evaluasi 360 derajat untuk manajer.
- Menyediakan program mentoring dan coaching bagi pemimpin baru.
4. Terapkan Sistem Feedback yang Terbuka
Karyawan yang merasa didengar cenderung lebih nyaman dan loyal terhadap perusahaan. Karena itu, perusahaan perlu menyediakan ruang untuk menyampaikan masukan secara terbuka.
Cara membangun sistem feedback yang efektif:
- Menyediakan saluran feedback anonim.
- Mengadakan one-on-one meeting secara rutin.
- Menindaklanjuti setiap masukan yang diterima.
5. Lakukan Employee Engagement Survey
Employee engagement survey dapat membantu perusahaan memahami kondisi karyawan sebelum muncul masalah yang lebih besar. Survei juga membantu HR mengambil keputusan berdasarkan data, bukan asumsi.
Hal yang perlu diukur:
- Kepuasan terhadap pekerjaan, kompensasi, dan lingkungan kerja.
- Hubungan dengan atasan dan rekan kerja.
- Kejelasan tujuan serta ekspektasi kerja.
- Employee Net Promoter Score (eNPS).
Dengan aplikasi HRIS yang tepat, proses survei dan analisis hasilnya dapat dilakukan lebih mudah melalui satu sistem yang terintegrasi.
6. Berikan Pengakuan dan Apresiasi kepada Karyawan
Apresiasi yang konsisten dapat meningkatkan motivasi dan loyalitas karyawan. Menariknya, bentuk apresiasi tidak selalu harus berupa insentif finansial.
Beberapa bentuk apresiasi yang bisa diterapkan:
- Program employee of the month.
- Pengakuan atas pencapaian dalam meeting atau media internal perusahaan.
- Evaluasi kinerja yang adil dan berbasis data.
7. Kurangi Risiko Burnout
Burnout merupakan salah satu penyebab utama karyawan memutuskan untuk resign. Karena itu, perusahaan perlu memastikan beban kerja tetap terkelola dengan baik.
Langkah yang dapat dilakukan:
- Memantau distribusi beban kerja secara berkala.
- Mendorong karyawan menggunakan hak cutinya.
- Membatasi ekspektasi kerja di luar jam operasional.
- Menyediakan dukungan kesehatan mental jika diperlukan.
8. Gunakan Data untuk Mengidentifikasi Risiko Resign
Pencegahan resign massal akan lebih efektif jika perusahaan menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan bantuan aplikasi database karyawan dan HRIS, berbagai potensi masalah dapat dideteksi lebih awal.
Data yang perlu dipantau:
- Tren absensi dan ketidakhadiran.
- Hasil employee engagement survey.
- Riwayat kinerja dan pengembangan karier.
- Masa kerja karyawan per divisi.
- Frekuensi pengajuan cuti mendadak.
9. Lakukan Stay Interview, Bukan Hanya Exit Interview
Jangan menunggu hingga karyawan mengajukan resign untuk mengetahui masalah yang mereka hadapi. Stay interview membantu perusahaan memahami alasan karyawan bertahan sekaligus mengidentifikasi potensi risiko resign.
Pertanyaan yang bisa diajukan:
- Apa yang paling Anda sukai dari pekerjaan saat ini?
- Apa yang membuat Anda kurang puas di tempat kerja?
- Apa yang bisa perusahaan lakukan agar Anda merasa lebih dihargai?
- Apakah ada faktor yang membuat Anda mempertimbangkan pindah kerja?
10. Optimalkan Pengelolaan SDM dengan Teknologi HRIS
Pengelolaan SDM yang tidak terstruktur dapat membuat perusahaan terlambat mendeteksi berbagai masalah yang berpotensi memicu resign massal. Karena itu, penggunaan teknologi HRIS dapat menjadi langkah preventif yang efektif.
Manfaat HRIS dalam membantu mencegah mass resignation:
- Mengumpulkan dan menganalisis data engagement secara otomatis.
- Memantau pola absensi dan kehadiran karyawan secara real-time.
- Menyimpan riwayat kinerja karyawan dalam satu sistem terpusat.
- Membantu proses evaluasi KPI secara lebih objektif.
- Menyediakan aplikasi employee self service untuk pengajuan cuti, reimbursement, dan pembaruan data pribadi.
Baca Juga: Karyawan Resign Saat Masa Training? Cek Aturan & Dampaknya!
Peran HR dalam Menghadapi Mass Resignation
Sebagai HR, Anda tentu memiliki peran penting dalam mencegah sekaligus merespons risiko mass resignation di perusahaan.
Tidak hanya bersifat administratif, HR juga berperan sebagai pihak yang membaca data, memahami kondisi karyawan, dan membantu manajemen mengambil keputusan yang tepat.
Berikut peran yang harus diambil HR dalam situasi tersebut:
- Memantau tingkat turnover karyawan secara rutin: HR perlu mengidentifikasi pola kenaikan resign agar potensi mass resignation dapat dideteksi lebih awal.
- Menganalisis data absensi dan kehadiran: Perubahan pola absensi, keterlambatan, atau ketidakhadiran dapat menjadi sinyal awal ketidakpuasan karyawan.
- Mengukur employee engagement secara berkala: HR perlu mengetahui tingkat keterlibatan karyawan melalui survei atau feedback untuk melihat kondisi psikologis tim.
- Mengidentifikasi akar masalah resign: Setiap pengunduran diri perlu dianalisis untuk menemukan pola penyebab yang berulang di dalam perusahaan.
- Menyusun strategi retensi karyawan: HR bertanggung jawab merancang program yang dapat meningkatkan loyalitas, seperti pengembangan karier, perbaikan kompensasi, dan perbaikan budaya kerja.
- Berkoordinasi dengan manajemen dalam pengambilan keputusan: HR menjadi penghubung antara data karyawan dan kebijakan perusahaan agar keputusan tidak hanya berdasarkan asumsi.
- Memastikan data SDM selalu terstruktur dan mudah diakses: Dengan sistem yang rapi, HR dapat mengambil keputusan lebih cepat ketika muncul indikasi risiko resign massal.
FAQ Terkait Mass Resignation
Bagian ini merangkum beberapa pertanyaan yang paling sering muncul terkait mass resignation di perusahaan. Tujuannya agar Anda dapat memahami konsep ini dengan lebih praktis dan mudah diterapkan dalam pengelolaan SDM sehari-hari.
1. Apakah mass resignation sama dengan turnover karyawan?
Tidak sama. Turnover karyawan adalah tingkat keluar-masuk karyawan dalam periode tertentu yang terjadi secara normal dan bertahap.
Sementara itu, mass resignation terjadi ketika banyak karyawan mengundurkan diri dalam waktu yang relatif bersamaan dan dapat mengganggu operasional perusahaan.
2. Berapa tingkat turnover yang dianggap tinggi?
Tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua industri. Namun, turnover dianggap tinggi ketika angkanya meningkat signifikan dibanding periode sebelumnya atau sudah melampaui rata-rata industri yang sama. Kondisi ini perlu menjadi perhatian HR untuk dianalisis lebih lanjut.
3. Bagaimana HR mengetahui karyawan berisiko resign?
HR dapat melihat beberapa indikator awal yang biasanya muncul sebelum karyawan benar-benar mengundurkan diri, seperti penurunan performa kerja, meningkatnya absensi, menurunnya engagement, serta seringnya muncul keluhan atau ketidakpuasan yang berulang.
Cegah Mass Resignation Lebih Awal dengan Data Karyawan yang Terpusat di KantorKu HRIS!
Mass resignation sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Biasanya, ada pola yang muncul lebih dulu seperti penurunan engagement, meningkatnya absensi, hingga turunnya produktivitas karyawan.
Di sinilah pentingnya pengelolaan data karyawan yang terpusat dan berbasis sistem digital. Tanpa data yang rapi, HR akan kesulitan membaca kondisi organisasi secara menyeluruh dan berisiko terlambat mengambil tindakan.
KantorKu HRIS hadir sebagai software HRIS yang membantu HR mengelola seluruh data karyawan dalam satu sistem yang terintegrasi. Mulai dari data karyawan, kehadiran, cuti, hingga performa dan payroll, semuanya dapat diakses secara lebih cepat, rapi, dan akurat.

Tampilan Database Karyawan dengan KantorKu HRIS
Beberapa fitur utama yang dapat membantu perusahaan Anda antara lain:
- Database karyawan terpusat: Seluruh informasi karyawan tersimpan dalam satu sistem sehingga lebih mudah dicari, diperbarui, dan dikelola tanpa spreadsheet manual.
- Absensi online dan manajemen cuti: Proses kehadiran, izin, dan cuti dapat dipantau secara real-time dan lebih transparan.
- Payroll otomatis: Perhitungan gaji, BPJS, dan komponen lainnya dilakukan secara otomatis untuk mengurangi risiko human error.
- Monitoring kinerja dan KPI: Evaluasi performa karyawan dapat dilakukan langsung dari dashboard yang lebih terstruktur dan mudah dipahami.
- Employee self service: Karyawan dapat mengelola data pribadi, pengajuan cuti, dan kebutuhan administrasi lainnya secara mandiri tanpa harus selalu melalui HR.
Dengan seluruh data yang saling terhubung dalam satu sistem, HR dapat lebih mudah menganalisis kondisi karyawan, mengidentifikasi risiko resign lebih awal, serta menyusun strategi retensi yang lebih tepat.
Jika Anda ingin mencoba kemudahan pengelolaan data karyawan secara digital, yuk book demo gratis KantorKu HRIS sekarang dan rasakan sendiri efisiensi yang ditawarkan!
KantorKu HRIS bantu kelola absensi, payroll, cuti, slip gaji, dan BPJS dalam satu aplikasi.
Referensi
Toxic Culture Is Driving the Great Resignation | MIT Sloan Management Review
Job Openings and Labor Turnover Summary | U.S. Bureau of Labor Statistics
State of the Global Workplace 2026 | Gallup
‘Great Resignation’ stifling the UK mid-market | Grant Thornton UK
Burn-out an “occupational phenomenon”: International Classification of Diseases | WHO
Related Articles
Panduan Gaji Bidan Lengkap untuk Pemilik Faskes & HRD
Emergency Leave: Arti, Aturan Hukum, & Cara Kelola yang Benar